Pengembangan Daya Saing Ekspor UMKM Indonesia
Posted on February 3rd, 2009 in Uncategorized | 2 Comments »
Pengembangan Daya Saing Ekspor UMKM Indonesia
Tema : Pengembangan daya saing ekspor Indonesia memiliki manfaat strategis untuk mengurangi dampak kedahsyatan krisis ekonomi global.
PENDAHULUAN
Penerimaan suatu negara selain dari pendapatan dalam negeri juga berasal dari penerimaan hasil ekspor ke negara lain. Indonseia sudah menikmati masa emas dengan memperoleh hasil ekspor yang besar sejak lama. Ekspor sangat perlu dalam perdagangan internasional, mengingat nilai tambah yang diperoleh suatu barang lebih besar karena menggunakan mata uang asing. Dengan kondisi tersebut, Indonesia harus terus menerus meningkatkan produksi dan kualitas sehingga dapat memanfaatkan peluang pasar (demand) dari negara lain. Beberapa industri dalam negeri dan produsen usaha mikro, kecil dan menegah sudah menyadari akan peluang teersebut.
Dalam rangka menggali peluang potensi ekspor ke luar negeri, pelaku usaha di Indoneisa, baik usaha besar maupun usaha UMKM harus senantiasa meningkatkan nilai tambah suatu produk. Pembeli diluar negeri pada saat ini mensyarakatkan kondisi barang yang sesuai dengan standar kualitas internasional. Disamping harus menjaga mutu produk, juga harus mempu memasok barang secara berkesinambungan. Tulisan ini membahas bagaimana mengembangkan daya saing ekspor Indonesia terutama menghadapi krisis global.
EKSPOR INDONESIA
Tekstil dan produk olahan seperti garmen merupakan salah satu andalan ekspor produk Indonesia ke luar negeri terutama ke Amerika. Beberapa produk pertanian, seperti cokelat (biji kakao) sebagian besar, lebih dari 90% di ekspor ke Amerika. Demikian pula produk pertanian lainnya, seperti karet dan hasil olahan kelapa sawit, antara lain CPO (crude palm oil).
Secara keseluruhan penerimaan nilai ekspor Indonesia mencapai kurang lebih mencapai 35% dari penerimaan Indonesia secara keseluruhan. Berarti masih sangat terbuka peluang untuk meningkatkan volume ekspor dimasa mendatang. Terutama produk pertanian yang dahulu kita unggul seperti padi, jagung, kelapa dan lainnya. Untuk meraih kesempatan tersebut, pelaku usaha harus meningkatkan nilai tambah (added value) suatu produk, bukan hanya di eskpor dalam bentuk bahan baku, tetapi diolah terlebih dahulu. Produk olahan dari kayu yang berbentuk furnitur dan handycraft memiliki pasar ekspor yang besar dan berpotensi meningkatkan penerimaan ekspor Indonesia.
KRSIS GLOBAL JILID DUA
Tak dinyana siapa menduga akan terjadi krsisis global jilid dua. Amerika sebagai adidaya justru menjadi penyebab krisis dan kini terhempas ke dalam jurang kebangkrutan. Dampak dari krisis di Amerika merambat ke seluruh penjuru dunia. Banyak negara di dunia panik tak terkecuali Indonesia. Amerika yang selama ini menjadi tujuan ekspor berbagai Negara, kini mengalami penurunan yang signifikan. Industri di Amerika mengurangi produksi, mulai dari industri perbankan, industri otomotif hingga industri manufaktur, semua terkena dampak krisis. Pemutusan hubungan kerja yang berdampak kepada menurun kemampuan beli rakyat.
Beruntung Indonesia memiliki pondasi ekonomi yang kuat, sehingga dampak krisis global tidaklah separah Negara lain di dunia. Salah satu yang mendukung Indonesia, ternyata rasio ekspor Indonesia hanya sekitar 35% dari total penerimaan negara. Artinya produk Indonesia masih sebagian besar terserap oleh permintaan dan konsumsi dalam negeri. Dalam kondisi krisis global saat ini memang harus didorong untuk menggarap pasar domestik. Pasar Indonesia, diyakini memiliki demand yang sangat tinggi sehingga sangat berpotensi untuk digarap. Namun demikian, peluang atas permintaan ekspor tetap perlu dijaga, terutama bila Amerika mampu mengatasi krisis ekonomi dalam waktu dekat, sejalan dengan penggantian pemerintahan di negeri paman sam.
PENGEMBANGAN DAYA SAING EKSOR INDONESIA
Daya saing ekspor Indonesia, khususnya produk pertanian perlu ditingkatkan. Dalam konsep GVCA (Global Value Chain Analysis) produk harus ditingkatkan nilai tambahnya melalui pengolahan lanjutan. Sebagai contoh pada industri perkebunan cokelat. Indonesia merupakan Negara produsen nomor 2 di dunia setelah Pantai Gading. Selama ini hasil perkebunan cokelat berupa biji cokelat (cacao bean) sebagian besar di ekspor ke Amerika. Biji kakao tersebut masih berupa bahan baku/bahan mentah belum diolah bahkan belum difermentasi. Ironisnya hasil olahan berupa bubuk coklat masih didatangkan dari luar neger.
Melalui konsep GVCA biji kakao dapat ditingkatkan nilai tambahnya, dengan perlakuan fermentasi terlebih dahulu agar harga lebih tinggi. Ke depan daya saing dapat ditingkatkan dengan mendorong industri dalam negeri. Mulai dari industri rumah tangga hingga industri bersekala menengah dan besar. Hasil produk olahan biji kakao tersebut akan bernilai ekspor yang tinggi di banyak Negara. Peningkatan daya saing harus didukung oleh semua pihak, pemerintah dan para pelaku usaha di Indonesia. Pelaku UMKM sangat berpotensi menjadi pilar terdepan untuk meningkatkan dan mengembangkan daya saing produk ekspor Indonesia. Dengan program stimulus yang dicanangkan pemerintah, harusnya menjadi momentum kebangkitan daya saing ekspor Indonesia.
KESIMPULAN
Dengan pondasi ekonomi yang kuat serta upaya terus menerus meningkatkan nilai tambah suatu produk, maka akan mampu meningkatkan daya saing ekspor Indonesia. Sekian