PULAU PASARAN
Penghasil IKAN TERI LAMPUNG
Cikal Bakal Sebuah Klaster Aktif – OVOP (One Village One Product)

Dengan menumpang perahu motor kita dapat menuju suatu Pulau di pesisir kota Bandar Lampung. Dari kejauhan sudah tampak kerumunan perahu di pulau tersebut. Dalam waktu 10 menit perahu sudah merapat dibibir pulau.
Pulau Pasaran memiliki luas 12 hektar dihuni oleh 245KK nelayan atau 900 orang penduduk, Luas awalnya hanya dua hektar. Luas pulau memang terus bertambah,, mungkin karena berada pada pantai yang landai, penduduk menguruk pinggir pantai dengan batuan, hingga jadilah luasnya seperti sekarang, 12 hektar.
Pulau Penghasil Ikan Teri di Lampung.
Profesi utama penduduk pulau adalah sebagi nelayan, namun bukan sebagai nelayan tangkap tetapi sebagai nelayan pengolahan ikan teri basah menjadi ikan teri kering. Hingga sekarang terdapat lebih empat puluh unit usaha pengolahan ikan teri. Produksi satu unit usaha memproduksi 200 rombong (keranjang bambu kapasitas 4 kg teri basah) atau 800 kg ikan teri basah. Satu rombong akan menjadi 1,7 kg teri kering. Sehingga produksi satu rombong menjadi 340 kg ikan teri kering. Dengan demikian produksi dari 40 unit usaha menjadi 13,6 ton per hari. Produksi sebulan (20 hari kerja) menjadi 272 ton per bulan. Hari kerja dihitung hanya 20 hari karena beberapa hari sebelum dan sesudah bulan purnama, nalayan tidak melaut. Pada waktu ada cahaya bulan, produksi ikan tangkap sangat sedikit.

Proses Produksi Ikan Teri
Sebagai nelayan pengolah ikan teri, bahan baku ikan teri dibeli langsung ke laut, yaitu berkeliling ke bagan milik nelayan tangkap. Jumlah bagan di perairan Lampung Selatan tidak kurang dari lima ratus (500) bagan. Uniknya, sambil berkeliling membeli ikan teri basah dari bagan ke bagan, ikan teri yang sudah dibeli langsung di rebus diatas kapal. Menurut nelayan pengolah, hal ini harus dilakukan untuk memanfaatkan waktu selama di laut, juga untuk menghindari ikan membusuk. Proses pembelian dan perebusan ikan teri di laut berlangsung semalaman. Pada pagi hari menjelang subuh, mereka baru kembali ke pulau.
Begitu ikan teri rebus (basah) sampai di pulau, langsung dilakukan penjemuran diatas hamparan rajutan bambu yang berukuran 1 meter x 15 meter dengan memanfaatkan sinar matahari. Proses penjemuran hingga kering biasanya dilakukan selama satu hari penuh. Selama proses penjemuran, ikan teri biasanya dibolak balik setiap setengah jam, agar bisa kering merata.
Setelah ikan teri kering, proses selanjutnya adalah memilah-milah ikan teri menurut ukuran dan jenisnya. Pemilihan biasanya menghasilkan dua jenis ikan, yaitu ikan teri nasi dan ikan teri jengki, sisanya dari jenis ikan yang lain seperti cumi dan lainnya. Hasil sortiran tersebut disimpan di dalam karung dan siap di jual.
Penjualan ke Juragan Muara Kapuk
Sebagian besar produksi ikan teri pulau Pasaran dijual ke Jakarta, ke juragan ikan di Muara Kapuk. Hubungan dagang antara pengolah ikan teri dengan para juragan sudah berlangsung bertahun-tahun. Setiap pengolah ikan teri punya langganan juragan sendiri. Begitu ada ikan teri yang siap dijual, pengolah kontak juragan melalui handphone, atau sebaliknya sang jurgan yang menghubungi pengolah ikan teri di pulau Pasaran.
Proses pengiriman ke Jakarta melalui jasa ekspedisi merek Kebo Mas yang ada di kota Bandar Lampung. Ongkos kirim dipatok satu (1) kg sebesar Rp. 400/kg. Ikan teri dimasukkan dalam kardus berisi 20 kg diberi alamat tujuan, nama juraga di Jakarta serta nama dan alamat pengolah. Setiap kilogram ikan teri yang dikirim disisihkan Rp. 50 untuk biaya kuli angkut pulau dan dana cadangan untuk masyarakat di pulau. Sisa dana tersebut sebagai dana sosial untuk membantu membangun sekolah dan fasilitas umum lainnya di pulau Pasaran.
Harga jual ikan teri basah bervariasi antara Rp. 40.000 sampai Rp. 50.000/kilogram. Pembayaran dilakukan oleh juga setelah kiriman ikan diterima di Jakarta dan terjual. Fungsi juragan boleh dikatakan multi fungsi. Sang juragan kadang kala memberikan dana talangan terlebih dahulu kepada pengolah. Kadangkala sebelum ikan dikirim, para pengolah sudah meminjam dulu dana untuk membayar ongkos pekerja lepas serta untuk dana membeli ikan teri basah di laut serta biaya proses produksi ikan berikutnya. Sang juragan juga sebagai penyedia modal untuk biaya modal kerja. Jumlah uang yang beredar di Pulau kalau berpatokan dari penjualan rata-rata yang mencapai 272 ton per bulan dikalikan dengan harga Rp. 40.000/kg akan menjadi Rp. 10,88 milyar per bulan. Jumlah dana yang tidak sedikit.
Ladang Pekerjaan Ibu-Ibu dari Darat

Sebagai pusat pengolahan ikan teri di Lampung, pulau Pasaran menyerap banyak tenaga kerja, terutama kaum ibu dari luar pulau. Satu pengolah paling sedikit membutuhkan sepuluh (10) orang tenaga kerja lepas untuk proses penjemuran dan pensortiran ikan teri. Sehingga tidak kurang 400 orang ibu ibu dari daratan di luar pulau yang setiap hari mengandalkan hidup bekerja di pulau Pasaran. Situasi ini sudah berlangsung bertahun-tahun.
Perlu Campur Tangan Pemerintah
Sebagai pusat penghasil ikan teri di Provinsi Lampung, dengan omset / penjualan mencapai Rp. 10,88 milyar per bulan., maka pulau Pasaran sangat potensial dikembangkan menjadi pusat pengolahan ikan teri dan layak dijadikan program pengembangan usaha mikro kecil dan menengah melalui pola klaster. Saat ini pemerintah sedang menggalakkan program pengembangan komoditi dengan pola OVOP / one village one product yang berbasis klaster.
Program OVOP ini sangat cocok dilaksanakan di Pulau Pasaran mengingat produk ikan teri sudah menjadi produk utama di pulau tersebut. Usaha ini menjadi andalan sumber pekerjaan dan pendapatan masyarakat yang tinggal di pulau maupun pekerja dari luar pulau. Sebagai sumber kehidupan masyarakat, kegiatan usaha pengolahan ikan teri dihadapkan pada berbagai kendala.
Kendala Nelayan Pulau Pasaran.
Kendala klasik pertama adalah sarana dan prasarana pengolahan yang digunakan masih sangat sederhana dan tradisional. Seperti alat untuk merebus ikan basah diatas kapal, alat penjemuran, alat sortir, alat timbang, alat packaging. Alat yang sederhana ini sangat mempengaruhi mutu produksi ikan teri yang dihasilkan sehingga harga jualnya kurang kompetitif.
Kendala klasik kedua, adalah permodalan. Berkembangnya usaha pengolah hingga seperti sat ini, tidak terlepas dari kegigihan mereka mengatasi masalah modal. Modal terbesar tentunya adalah membeli bahan baku ikan basah, rata-rata 200 rombong (800 kg ikan basah) @ Rp. 30ribu/rombong atau perlu modal Rp. 6 juta. Biaya lainnya adalah biaya membeli ikan ke laut menggunakan perahu sekaligus biaya merebus. Jumlah biaya mencapai Rp. 10 juta/usaha. Dengan perhitungan tersebut maka kebutuhan modal kerja dalam satu bulan (20 hari) mencapai Rp.200 juta per pengusaha. Bayangkan jumlah biaya yang dibutuhkan oleh 40 orang pengusaha yang ada di pulau., hampir mencapai Rp. 8 milyar per bulan. Selama ini sumber modal berasal dari kerjasama dengan juragan. Kerjasama dengan juragan ini tentunya dengan berbagai resiko, posisi tawar nelayan pengolah ikan sangat rendah, harga ditentukan oleh juragan. Hal hasil margin keuntungan sangat tipis. Dengan demikian, sangat dibutuhkan modal dari sumber lain, selain dari para juragan di Muara Kapuk.
Kendala klasik ketiga adalah pemasaran yang sangat tergantung pada juragan yang ada di Muara Kapuk Jakarta. Kendala ini tentunya turunan dari minimnya sarana pengolahan dan kurangnya modal untuk kegiatan pengolahan lebih lanjut. Untuk menembus pasar sendiri perlu terobosan pasar melalui usaha promosi pameran produk olehan yang sudah dibungkus dengan baik.
Kesimpulan.
Kehidupan ekonomi masyarakat di pulau Pasaran dihasilkan oleh hasil usaha pengolahan ikan teri basah menjadi ikan teri kering. Kegiatan yang fokus pada pengolahan ikan teri asin berepotensi dikembangkan melalui pola One Village One Product yang berbasiskan Klaster. Program ini mendukung salah satu program pengembangan UMKM yang dicanangkan pemerintah. Untuk meningkatkan keterkaitan usaha dari hulu ke hilir perlu membangun pola kemitraan antar pelaku usaha yang ada di pulau Pasaran dan dari luar pulau Pasar.
Lampung, 17 Juni 2009
Deddy Eward Tanjung