Archive for August, 2009

CONTOH SURAT PERMOHONAN KREDIT

Posted on August 28th, 2009 in Kredit | 1 Comment »

Bapak Ibu Saudaraku pelaku UMKM

Berikut ini saya sampaikan contoh surat untuk mengajukan pinjaman kredit atau pembiayaan kepada Bank Konvensional atau Bank Syariah.  Selamat mencoba. Sukses

copy-of-100_12873

CONTOH SURAT PERMOHONAN KREDIT /

PEMBIAYAAN KEPADA LEMBAGA KEUANGAN BANK

………………….., ………………………..

Kepada

Yth. Bapak Pimpinan PT. Bank …………………..

Kantor ……………………………………………………

Di -

…………………………………

Hal : Permohonan Kredit

Dengan hormat,

Sehubungan dengan pengembangan usaha ……………………………………………, maka kami membutuhan tambahan kredit sebesar Rp.60.000.000,00 (enam puluh juta rupiah), untuk itu kami mohon pinjaman fasilitas kredit dari PT. Bank ……….. Kantor ………………………………..

Bersama ini kami lampirkan :

  1. Proposal/rencana penggunaan kredit
  2. Pas photo
  3. Photocopy identitas diri
  4. Photcopy perizinan
  5. Photocopy agunan
  6. Photocopy rekening tabungan
  7. Photocopy NPWP
  8. Catatan / Laporan Keuangan (neraca&rugi/laba)
  9. Photocopy kartu keluarga
  10. Surat persetujuan suami/isteri/ahli waris
  11. Dokumen lain yg dipandang perlu

Demikian surat permohonan ini kami buat sebagaimana mestinya, atas bantuan dan perhatian Bapak kami ucapkan terima kasih.

Hormat Kami,

………………………………….


PERMOHONAN FASILITAS KREDIT

SEKTOR EKONOMI …………………………………………………

DATA UMUM PEMOHON

1. Nama Pemohon

2. Nomor KTP

3. Pendidikan Terakhir

4. Alamat Rumah

5. Alamat Usaha

6. Bentuk hukum Perusahaan

7. Pinjaman yang Diajukan

8. Peruntukan Pinjaman

DATA KELUARGA

1. Nama Istri/Suami

2. Jumlah Anak

3. Jumlah tanggungan

4. Status Rumah

5. Rata-rata Biaya Hidup :

ASPEK MANAJEMEN

1. Motivasi mendirikan Usaha

2. Jenis Usaha

3. Waktu Mulai Usaha

4. Pengalaman Pemohon

5. Siapa saja pemilik modal

6. Jumlah & keahlian tenaga Kerja

ASPEK TEKNIS

Riwayat usaha

1. Proses Kegiatan Usaha/ Produksi

2. Sifat Usaha (baru/perluasan)

3. Status Bangunan Tempat Usaha (Milik sendiri/sewa)

4. Bahan Baku

5. Mesin dan Peralatan yang dipergunakan

6. Produksi yang dihasilkan

7. Proyeksi produksi dengan adanya penambahan modal kerja/investasi dari bank

ASPEK PEMASARAN

1. Daerah pemasaran

2. Saluran distribusi pemasaran

3. Kebutuhan pasar akan produk

4. Pesaing.

5. Penjualan saat ini dan rencana penjualan

ASPEK KEUANGAN

1. Apakah pernah memiliki pinjaman

2. Status pinjaman saat ini

3. Sumber pinjaman (Bank/perorangan/BUMN)

4. Jumlah biaya produksi

5. Rata-rata omset perbulan

6. Rata-rata harga pokok penjualan/produksi

7. Kebutuhan tambahan biaya produksi

Yang telah ada

Dana sendiri

Pembiayaan yang diusulkan

8. Rencana penggunaan (Modal kerja/Investasi)

9. Kesanggupan angsuran per bulan

LAPORAN KEUANGAN

1. Laporan Laba/Rugi

2. Neraca Usaha

3. Pencatatan Arus pendapatan dan pengeluaran

4. Proyeksi Laba/Rugi

5. Proyeksi Neraca Usaha

6. Proyeksi Arus Pendapatan dan Pengeluaran

ASPEK HUKUM

1. Bentuk badan usaha

2. Perizinan yang dimiliki

3. Jaminan yang akan diserahkan

Klaster Ikan Teri Lampung

Posted on August 26th, 2009 in Kredit | No Comments »

PULAU PASARAN

 Penghasil IKAN TERI LAMPUNG[1]

Cikal Bakal Sebuah Klaster Aktif – OVOP (One Village One Product)

deddy-1

Dengan menumpang perahu motor kita dapat menuju suatu Pulau di pesisir kota Bandar Lampung. Dari kejauhan sudah tampak kerumunan perahu di pulau tersebut. Dalam waktu 10 menit perahu sudah merapat dibibir pulau.

Pulau Pasaran  memiliki luas  12 hektar dihuni oleh 245KK nelayan atau 900 orang penduduk, Luas awalnya hanya dua hektar. Luas pulau memang terus bertambah,, mungkin karena berada pada  pantai yang landai,  penduduk  menguruk pinggir pantai dengan batuan, hingga jadilah luasnya seperti sekarang, 12 hektar.

Pulau Penghasil Ikan Teri  di Lampung.

Profesi  utama penduduk pulau adalah sebagi nelayan, namun bukan sebagai nelayan tangkap tetapi sebagai nelayan pengolahan ikan teri basah menjadi ikan teri kering.  Hingga sekarang terdapat lebih empat puluh unit  usaha  pengolahan ikan teri.  Produksi satu unit usaha  memproduksi 200 rombong[2]  (keranjang bambu kapasitas 4 kg teri basah) atau 800 kg ikan teri basah. Satu rombong akan menjadi 1,7 kg teri kering.  Sehingga produksi satu rombong menjadi 340 kg ikan teri kering.  Dengan demikian produksi dari 40 unit usaha menjadi  13,6 ton per  hari. Produksi sebulan (20 hari kerja) menjadi 272 ton per bulan.   Hari kerja dihitung hanya 20 hari karena beberapa hari sebelum dan sesudah bulan purnama, nalayan tidak melaut.  Pada waktu ada cahaya bulan, produksi  ikan tangkap sangat sedikit.

100_2136

Proses Produksi Ikan Teri

Sebagai nelayan pengolah ikan teri, bahan baku ikan teri dibeli langsung ke laut, yaitu berkeliling ke bagan[3]  milik nelayan tangkap.  Jumlah bagan di perairan Lampung Selatan tidak kurang dari lima ratus (500) bagan.  Uniknya, sambil berkeliling membeli ikan teri basah dari bagan ke bagan,  ikan teri yang sudah dibeli langsung di rebus diatas kapal.  Menurut nelayan pengolah, hal ini harus dilakukan untuk memanfaatkan waktu selama di laut, juga untuk menghindari ikan membusuk.  Proses pembelian dan perebusan ikan teri di laut berlangsung semalaman.  Pada pagi hari menjelang subuh, mereka baru kembali ke pulau.

Begitu ikan teri rebus (basah) sampai di pulau, langsung dilakukan penjemuran diatas hamparan rajutan bambu yang berukuran 1 meter x 15 meter dengan memanfaatkan sinar matahari.  Proses penjemuran hingga kering biasanya dilakukan selama satu hari penuh.  Selama proses penjemuran, ikan teri biasanya dibolak balik setiap setengah jam, agar bisa kering merata.

Setelah ikan teri kering, proses selanjutnya adalah memilah-milah ikan teri menurut ukuran dan jenisnya.  Pemilihan biasanya menghasilkan dua jenis ikan, yaitu ikan teri nasi dan ikan teri jengki, sisanya dari jenis ikan yang lain seperti cumi  dan lainnya.   Hasil sortiran tersebut disimpan di dalam karung dan siap di jual.

Penjualan ke Juragan Muara Kapuk

Sebagian besar produksi ikan teri pulau Pasaran dijual ke Jakarta, ke juragan ikan di Muara Kapuk.  Hubungan dagang antara pengolah ikan teri dengan para juragan sudah berlangsung bertahun-tahun.  Setiap pengolah ikan teri punya langganan juragan sendiri.  Begitu ada ikan teri yang siap dijual, pengolah kontak juragan melalui handphone, atau sebaliknya sang jurgan yang menghubungi pengolah ikan teri di pulau Pasaran. 

Proses  pengiriman ke Jakarta melalui jasa ekspedisi merek Kebo Mas yang ada di kota Bandar Lampung. Ongkos kirim dipatok satu (1) kg sebesar Rp. 400/kg.  Ikan teri dimasukkan dalam kardus berisi 20 kg diberi alamat tujuan, nama juraga di Jakarta serta nama dan alamat pengolah.  Setiap kilogram ikan teri yang dikirim disisihkan Rp. 50 untuk biaya kuli angkut pulau dan dana cadangan untuk masyarakat di pulau.  Sisa dana tersebut  sebagai dana sosial untuk membantu membangun sekolah dan fasilitas umum lainnya di pulau Pasaran.

Harga jual ikan teri basah bervariasi antara Rp. 40.000 sampai Rp. 50.000/kilogram.  Pembayaran dilakukan oleh juga setelah  kiriman ikan diterima di Jakarta dan terjual.  Fungsi juragan boleh dikatakan multi fungsi.  Sang juragan kadang kala memberikan dana talangan terlebih dahulu kepada pengolah.  Kadangkala sebelum ikan dikirim, para pengolah sudah meminjam dulu dana untuk membayar ongkos pekerja lepas serta untuk dana membeli ikan teri basah di laut serta biaya proses produksi ikan berikutnya.  Sang juragan juga sebagai penyedia modal untuk biaya modal kerja.  Jumlah uang yang beredar di Pulau kalau berpatokan dari penjualan rata-rata yang mencapai 272 ton per bulan dikalikan dengan harga Rp. 40.000/kg akan menjadi  Rp. 10,88 milyar per bulan.  Jumlah dana yang tidak sedikit.

Ladang Pekerjaan Ibu-Ibu dari Darat

100_2154

Sebagai pusat pengolahan ikan teri di Lampung, pulau Pasaran menyerap banyak tenaga kerja, terutama kaum ibu dari luar pulau.  Satu pengolah paling sedikit membutuhkan sepuluh (10) orang tenaga kerja lepas untuk proses penjemuran dan pensortiran ikan teri. Sehingga tidak kurang 400 orang ibu ibu dari daratan di luar pulau yang setiap hari mengandalkan hidup bekerja di pulau Pasaran.  Situasi ini sudah berlangsung bertahun-tahun.

Perlu Campur Tangan Pemerintah

Sebagai pusat penghasil ikan teri di Provinsi Lampung, dengan omset / penjualan mencapai Rp. 10,88 milyar per bulan., maka pulau Pasaran sangat potensial dikembangkan menjadi  pusat pengolahan ikan teri dan layak dijadikan program pengembangan usaha mikro kecil dan menengah melalui pola klaster[4].  Saat ini pemerintah sedang menggalakkan program pengembangan komoditi dengan pola OVOP[5] / one village one product yang berbasis klaster. 

Program OVOP ini sangat cocok dilaksanakan di Pulau Pasaran mengingat produk ikan teri sudah menjadi produk utama di pulau tersebut.  Usaha ini menjadi andalan sumber pekerjaan dan pendapatan masyarakat yang tinggal di pulau maupun pekerja dari luar pulau.  Sebagai sumber kehidupan masyarakat, kegiatan usaha pengolahan ikan teri dihadapkan pada berbagai kendala.

Kendala Nelayan Pulau Pasaran.

Kendala klasik pertama adalah sarana dan prasarana pengolahan yang digunakan masih sangat sederhana dan tradisional.  Seperti  alat untuk merebus ikan basah diatas kapal, alat penjemuran, alat sortir, alat timbang, alat packaging.  Alat yang sederhana ini sangat mempengaruhi mutu produksi ikan teri yang dihasilkan sehingga harga jualnya kurang kompetitif.  

Kendala klasik kedua, adalah permodalan.  Berkembangnya usaha pengolah hingga seperti sat ini, tidak terlepas dari kegigihan mereka mengatasi masalah modal.  Modal terbesar tentunya adalah membeli bahan baku ikan basah, rata-rata 200 rombong (800 kg ikan basah) @ Rp. 30ribu/rombong atau perlu modal Rp. 6 juta.  Biaya lainnya adalah biaya membeli ikan ke laut menggunakan perahu sekaligus biaya merebus.  Jumlah biaya mencapai Rp. 10 juta/usaha. Dengan perhitungan tersebut maka kebutuhan modal kerja dalam satu bulan (20 hari) mencapai Rp.200 juta per pengusaha.  Bayangkan jumlah biaya yang dibutuhkan oleh 40 orang pengusaha yang ada di pulau., hampir mencapai Rp. 8 milyar per bulan.  Selama ini sumber modal berasal dari kerjasama dengan juragan.  Kerjasama dengan juragan ini tentunya dengan berbagai resiko, posisi tawar nelayan pengolah ikan sangat  rendah, harga ditentukan oleh juragan.  Hal hasil margin keuntungan sangat tipis.  Dengan demikian, sangat  dibutuhkan modal dari sumber lain, selain dari para juragan di Muara Kapuk.

Kendala klasik ketiga adalah pemasaran yang sangat tergantung pada juragan yang ada di Muara Kapuk Jakarta.   Kendala ini tentunya turunan dari minimnya sarana pengolahan dan kurangnya modal untuk kegiatan pengolahan lebih lanjut.  Untuk menembus pasar sendiri perlu terobosan pasar melalui usaha promosi  pameran produk olehan yang sudah dibungkus dengan baik. 

Kesimpulan.

Kehidupan ekonomi masyarakat di pulau Pasaran dihasilkan oleh hasil usaha pengolahan ikan teri basah menjadi ikan teri kering. Kegiatan yang fokus pada pengolahan ikan teri asin berepotensi dikembangkan melalui pola One Village One Product yang berbasiskan Klaster. Program ini mendukung salah satu program pengembangan UMKM yang dicanangkan pemerintah. Untuk meningkatkan keterkaitan usaha dari hulu ke hilir perlu membangun pola kemitraan antar pelaku usaha yang ada di pulau Pasaran dan dari luar pulau Pasar.

Lampung, 17 Juni 2009

Deddy Eward Tanjung

[1]  Ditulis oleh Deddy Edward Tanjung, Konsultan Sektor Riil dan UMKM, pengasuh webblog http://usaha-umkm.blog.com email : deddyedward@gmail.com

[2] Rombong adalah sejenis kerangjang dari bambu yang dapat disii dengan 4 kg ikan teri bash pada saat membeli di bagan nelayan di laut

[3] Bagan adalah tempat menangkap ikan milik nelayan di laut yang berbentuk bangunan bambu dilengkapi jaring

[4] Klaster adalah sekumpulan usaha yang berada dalam satu kawasan usaha dan memiliki keterkaitan proses dari hulu ke hilir yang ditopang oleh lembaga pendukung produksi, pemasaran, keuangan, riset dan pengembangan.

[5] OVOP adalah program mengembangkan suatu komoditi unggulan bertujuan meningkatkan produktifitas masyarakat sehingga mampu meningkatkan pendapatan pelaku UMKM.


Roadmap Pemberdayaan UMKM

Posted on August 10th, 2009 in Kredit | No Comments »

Roadmap Pemberdayaan UMKM

Bapak/Ibu/Saudaraku Pealku UMKM yang tercinta

Salam  Merdeka

 

Kita jumpa lagi menjelang hari kemerdekaan republik tercinta ini, mari kita songsong dengan penuh semangat baru mengisinya dengan kerja keras dan kerja nyata. Saya yakin para pelaku UMKM memiliki semangat yang membara untuk sukses mengembangkan usaha.  Berbagai persoalan silih berganti menghadang dihadapan kita, semua harus bisa kita dihadapi.

Kini UMKM memiliki pondasi yang kuat yakni adanya Undang Undang No. 20 Tahun 2009 tentang UMKM.  Berbagai pihak mencoba menjabarkannya, seperti yang direncanakan oleh KADIN dengan menyiapkan Roadmap Perberdayaan UMKM.  Saya pikir ini adalah hal yang sangat positip dan perlu kita tunggu langkah realiasasinya. Berikut saya lampirkan cuplikan rencana tersebut sebagaimana yang dimuat pada harian Republika, Senin 10 Agustus 2009

 

Kadin Siapkan Roadmap Pemberdayaan UMKM

JAKARTA–Wakil Ketua Umum Kadin Bidang UMKM dan Koperasi, Sandiaga S Uno, menjelaskan, Kadin sedang menggodok roadmap Pemberdayaan UMKM dan Koperasi, dengan pilar pentingnya /platform micro finance baru Indonesia. Target penyelesaian roadmap ini bulan Oktober 2009.

Sandiaga mengungkapkan, kunci platform micro finance adalah kesempatan bagi setiap pengusaha mikro untuk mendapatkan akses kredit, seperti program Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang berlangsung sejak tahun 2007 lalu.

“KUR sudah cukup baik namun belum secara cepat menjangkau segmen terpenting dan terbanyak dari usaha mikro yaitu mereka yang betul-betul miskin secara keuangan dan kemampuan,” papar Sandiaga, di Jakarta, akhir pekan lalu.

Menurutnya, kredit mikro adalah bentuk intervensi bersama antara pengusaha, pemerintah, dan akademisi untuk memberantas kemiskinan.

Akan tetapi, jelas mantan Ketua Umum BPP Hipmi ini, kredit mikro yang dibutuhkan bukan saja yang tidak membutuhkan kolateral atau jaminan aset, melainkan juga yang tidak mencekik bunganya.

Menurut laporan yang direkap Kadin, selama ini banyak bentuk kredit tanpa agunan tapi suku bunga pinjamannya sangat tinggi. Akibatnya, kredit tersebut tidak bisa dijangkau bagi kalangan pengusaha kecil maupun pengusaha mikro.

Diakui Sandiaga, jika diperhatikan secara sekilas, risiko sistem pembiayaan ini lebih tinggi. Namun setelah didalami ternyata risiko tersebut menjadi rendah. Hal itu terjadi, karena sinergi kolektif antara peminjam, deposan, pengusaha mikro dan konsumennya yang juga berasal dari kalangan menengah ke bawah.

Sandiaga mengatakan, yang penting bukan faktor tinggi atau rendahnya risikonya. Akan tetapi bagaimana meringankan dan menangani risiko tersebut sehingga feasible untuk semua pihak.

Sandiaga yang usai bertemu Penerima Nobel Perdamaian 2006 sekaligus Pendiri Grameen Bank Prof. Yunus, menyatakan bahwa Prof Yunus berjanji akan berkunjung ke Indonesia dalam waktu dekat untuk memberikan dukungan teknis terbentuknya lembaga keuangan mikro di Tanah Air.

“Tapi, mekanismenya tentu harus disesuaikan dengan topografi budaya dan peta usaha mikro dan koperasi di Indonesia, yang jumlah UMKM mencapai 51 juta unit usaha,” tandas Sandiaga. zak

Sumber : Republika, Senin, 10 Agustus 2009