Berani Bisnis Bengkel?
Posted on October 31st, 2009 in Sektor Jasa | No Comments »
Bapak/Ibu/Saudaraku pelaku UMKM di seluruh Indonesia.
Berikut pengasuh sampaikan cuplikan artikel yang sangat meanrik “BERANI BISNIS BENGKEL” yang dirilis oleh harian REPUBLIKA. Artikel lengkap klik disini.
Menurut pengasuh, artikel ini sangat bagus untuk dibaca apalagi untuk diterapkan.
SYARAT MEMBUKA BENGKEL RESMI
- Mengajukan permohonan ke diler utama daerah masing-masing
- Memiliki lahan sendiri atau sewa minimal lima tahun
- Lokasi strategis
- Sebaiknya mempunyai pengetahuan tentang servis dan manajemen
bengkel.
- Menyediakan SDM sendiri
- Modal Rp 50 juta-Rp 80 juta
Berani Bisnis Bengkel?
Peluang membuka bengkel resmi sepeda motor terbuka lebar
Sabtu, 31 Oktober 2009. Pertumbuhan industri sepeda motor yang terus berkembang ternyata memberikan peluang bisnis yang cukup menjanjikan bagi industri pendukungnya. Bisnis bengkel dan penjualan suku cadang, misalnya kini ikut tumbuh di kota-kota hingga ke pelosok Tanah Air.
Peluang bisnis untuk membuka bengkel sepeda motor sampai sekarang masih terbuka lebar, dan pihak pabrikan pun meresponsnya dengan positip, bahkan mendorong masyarakat untuk menekuni bisnis ini. Karena penyebaran bengkel tidak hanya menguntungkan bagi konsumen, tapi juga membuka pintu bagi pabrikan motor untuk memasarkan spare part-nya seluasluasnya. ‘’Bengkel motor memang tidak ada matinya, asalkan kita dapat menjaga pelayanan dan kualitas servis, sehingga konsumen puas’’ ujar Martono, pengelola bengkel motor di daerah Cibinong, Bogor.
Peluang bengkel yang dimaksud adalah bengkel resmi pabrikan atau bengkel umum yang banyak ditemui di pinggir jalanan. Namun, dalam beberapa hal mendirikan bengkel resmi memiliki banyak kelebihan. Asisten Manager Group Leader Area Representative PT Indomobil Niaga International (INI) (produsen motor Suzuki), Hariadi, mengatakan bengkel resmi mempunyai sistem manajemen yang standar. Sehingga pemilik tinggal menjalankan sistem tersebut tanpa perlu memikirkan cara membuatnya.
Selain itu, bengkel resmi pun akan mendapat pembinaan yang terus menerus dari diler utama. Jadi pemilik akan selalu ditemani diler utama dan tidak sendirian dalam menghadapi berbagai masalah yang ditemui di bengkelnya. Para mekaniknya pun senantiasa mendapat pelatihan untuk meningkatkan kemampuan, terutama soal informasi terbaru dari sebuah produk. Mekanik juga mendapat pedoman reparasi, sehingga punya panduan untuk melakukan servis lengkap dengan ukuran yang standar.
Untuk pembelian tools atau suku cadang di diler utama, kata Hariadi, bengkel resmi mendapat diskon sehingga harganya pun lebih murah.
Hanya saja, lanjut dia, karena merupakan bengkel resmi, mereka tidak dapat melayani sepeda motor merek lain. Selain itu, juga harus mematuhi aturan dari agen tunggal pemegang merek (ATPM). Seperti tidak menjual suku cadang dan oli yang tidak asli atau pun tidak direkomendasikan.
‘’Kami punya dua bentuk bengkel, yakni 3S ( sales, service, spare part) dan 2S ( service dan spare part),’’ ujar Hariadi. Untuk outlet 3S, tidak melayani merek lain untuk diservis. Tapi, untuk bengkel 2S bebas menerima motor apa saja. Hal ini karena bengkel 2S tidak melakukan penjualan motor dan pemasukannya hanya bersumber dari jasa servis dan suku cadang.
Untuk dapat terjun ke bisnis bengkel resmi ini, banyak persyaratan dan aturan main yang harus dipenuhi. Kepada Republika, Senior Manager Technical Service Departemen PT Wahana Makmur Sejati (WMS), Ario, menjelaskan bagi masyarakat yang berminat terjun ke bisnis Honda, mereka bisa mengajukan langsung ke diler utama di masing-masing daerah. Untuk wilayah Jakarta dan Tangerang, diler utamanya adalah Wahana Makmur Sejati (WMS). ‘’Pada dasarnya, siapa saja bisa membuka bengkel AHASS. Asal sesuai dengan kebutuhan kami dan ketentuan yang berlaku,’’ ujarnya. Yang penting, lanjut dia, pemohon harus menyediakan sumber daya manusia dan peralatan sendiri. WMS hanya menyediakan pelatihan untuk mekanik.
Maksud sesuai dengan kebutuhan, kata dia, bengkel tersebut harus menjangkau daerah baru yang selama ini belum ada jaringan Honda. Hingga saat ini, WMS membawahi 354 outlet. Sebanyak 75 di antaranya merupakan outlet dengan pelayanan 3S.
Untuk membuka bengkel Honda, lanjut dia, setidaknya harus ada dua hal yang harus dipertimbangkan, yakni cakupan area dan cakupan pelanggan.
Sayangnya, kata Ario, untuk saat ini WMS merasa belum perlu untuk membuka bengkel baru di daerah Jakarta dan Tangerang. ‘’Kami belum ada rencana untuk menambah bengkel baru. Saat ini, kami rasa outlet yang ada sudah cukup meng- cover area dan pelanggan Honda,’’ ujarnya.
Peluang besar
Berbeda dengan Suzuki yang mengatakan akan menambah outletnya (3S dan 2S) sekitar 40-50 outlet baru hingga akhir 2009. Dan, peluang ini terbuka bagi masyarakat luas.
Namun, lanjut Hariadi, ada bebarapa persyaratan yang harus dipenuhi dalam membuka bengkel baru Suzuki. Antara lain, pemohon harus mempunyai lahan sendiri. Kalau pun tidak, harus sewa minimal dalam jangka lima tahun. Lokasi rencana bengkel pun harus strategis, sehingga memiliki peluang bisnis yang lebih baik.
Selain itu, pemohon harus memiliki latar belakang di bisnis bengkel. Entah itu sudah pernah memiliki bengkel atau sedang mengelola bengkel.
Menurut Hariadi, Suzuki memberikan prioritas pembukaan bengkel resmi ini kepada mereka yang pernah menekuni bisnis bengkel. Pertimbangannya, karena mereka sudah memiliki pelanggan tetap dan mengerti administrasi perbengkelan.
Namun, pihaknya tidak menutup kemungkinan bagi mereka yang belum pernah terjun ke bisnis ini untuk ikut bergabung. Kalau dari nol, modalnya sekitar Rp 50 juta hingga Rp 80 juta. Tapi kalau sudah punya bengkel, modal awal bisa kurang dari itu, ujarnya. m faqih
Semoga Bermanfaat.

Banyak orang yang ingin memulai suatu usaha, namun tidak tahu dari mana memulainya. Hal ini dialami oleh para pemuda yang sudah waktunya terjun ke masyarakat , mau tidak mau harus punya penghasilan. Apalagi yang baru berkeluarga, tentu harus punya penghasilan, untuk makan anak dan isteri. Sementara untuk mendapatkan pekerjaan sebagai karyawan (di pabrik, di mal, di kantor dan tempat lainnya) bukanlah hal yang mudah. Disamping banyak persyaratan yang harus dipenuhi juga harus bersaing dengan pencari kerja lainnya. Alih-alih menganggur, karena “tidak punya pekerjaaan”, katanya.
